cerpen

IBU… AKU HARUS PERGI

 

Beberapa minggui ini Alya merasa kepalanya sangat pusing dan dia juga sering pingsan saat ia merasa lelah. Awalnya dia menganggap bahwa itu hanya hal biasa. Namun, hal itu terus terjadi hingga beberapa kali disertai mimisan. Akhirnya Alya menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Harapan Bunda tanpa didampingi oleh ibunya. Alya sudah biasa mengurus semua keperluannya sendiri tanpa sang Ibu yang selalu sibuk. Alya memaklumi keadaan Ibunya yang selalu saja sibuk dengan pekerjaannya karna Alya mengetahui keadaan ibunya yang harus membanting tulang untuk mencari uang setelah ayahnya  meninggal 1 tahun yang lalu.

Sore itu Alya datang ke Rumah Sakit Harapan Bunda untuk mengambil hasil pemeriksaannya. Setelah ia mengambil hasilnya, Dokter Ines menjelaskan isi hasil pemeriksaan tersebut. “Apakah kamu sering merasa pusing lalu pingsan?” Tanya Dokter Ines. “Iya dokter. Dan beberapa kali disertai mimisan.” Jawab Alya. Dokter Ines diam beberapa saat. “Sebenarnya saya sakit apa dok?” Tanya Alya yang mulai panik. “Saya harus mengatakan ini dengan orang tua kamu?” jawab Dokter Ines yang membuat Alya semakin cemas. “Ibu saya sedang bekerja dok. Saya mohon dokter mengatakan yang sebenarnya pada saya. Nanti saya akan menyampaikan hasilnya pada ibu saya.” Jawab Alya sambil memohon. “Alya kamu mengidap penyakit Leukimia.” Jawab Dokter Ines singkat namun seketika membuat hati Alya hancur.

Alya mengurung diri di kamar. Tak ada satu suap nasi pun yang masuk ke mulutnya sepulang dari Rumah Sakit. Mbok Yum mengantarkan makan malam untuk Alya. Namun, Alya tetap tidak mau makan. “Mama mana mbok?” Tanya Alya. “Ibu belom pulang non. Mungkin sebentar lagi. Tapi sekarang non makan ya. Nanti saya dimarahin Ibu kalo non gak makan.” Kata Mbok Yum sedih. “Gak papa Mbok, biar saya makan nanti aja. Nanti biar saya yang ngomong sama Mama.” Jawab Alya tak bersemangat seraya pergi ke ruang tamu.

Bu Sonya akhirnya pulang. Setelah ia membuka pintu, ia melihat Alya tertidur di ruang tamu. “Non Alya dari tadi gak mau makan Bu. Katanya mau nunggu Ibu pulang.” Kata Mbok Yum menjelaskan. “Iya mbok gak papa.” Jawabnya singkat. “Alya, maafkan Mama. Mama sayang Alya. Tapi, Mama juga harus mencari uang sayang, untuk masa depan kamu.” Kata Ibu Alya sambil menyelimuti Alya.

Keesokan harinya, Alya menunggu Mama nya untuk sarapan. Alya berniat untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tiba-tiba ibunya duduk di sebelah Alya sambil memeluknya. “Mama baru saja memenangkan sebuah proyek sayang. Dan kabarnya Mama bakal naik jabatan.” Kata Ibu Alya sangat senang. Alya hanya bisa tersenyum. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mengatakan tentang penyakitnya karna tidak tega merusak kebahagiaan ibunya.

Hampir satu tahun Alya menyembunyikan tentang penyakitnya. Tak ada satu pun orang yang mengetahuinya. Diam-diam Alya sering datang ke Rumah Sakit dan bertemu Dokter Ines untuk konsultasi tentang penyakitnya dan meminta obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Beberapa kali Dokter Ines menyarankan Alya untuk mencari donor sumsum tulang belakang untuknya jika ia ingin tetap hidup. Namun, Alya tetap menolaknya karna ia tidak bisa meminta Ibunya untuk menjadi pendonor, bahkan untuk menceritakan hal yang sebenarnya saja ia tidak berani.

Suatu saat Bu Sonya menghampiri Alya di kamarnya. Baru sampai di depan pintu Bu Sonya melihat Alya meminum sebuah obat. Bu Sonya kebingungan melihat hal itu. Namun, karna Bu Sonya tak mengetahui obat itu, ia hanya berfikir bahwa itu adalah vitamin.

Keesokan harinya Bu Sonya sengaja tidak masuk kantor karna Bu Sonya ingin memberikan kejutan untuk Alya.Hari ini adalah hari ulang tahun Alya, dan hari ini Alya tepat berumur 17 tahun. Bu Sonya telah memesan satu kue ulang tahun dan juga hadiah special untuk Alya. Sejak pagi hari Bu Sonya dan Mbok Yum sepakat untuk bersikap tidak peduli dengan Alya agar lebih terasa special. Dan aksi Bu Sonya dan Mbok Yum berhasil membuat Alya bingung dan sedih. Alya menangis di dalam kamarnya. “Ternyata gak ada satu orang pun yang peduli denganku. Begitu tak berartikah aku untuk mereka?”gumamnya dalam hati.

Tepat pukul 5 sore, Bu Sonya dan Mbok Yum menghampiri Alya di kamarnya sambil membawa kue ulang tahun dan kado yang sudah disiapkan dari tadi. “SURPRISE!!!! Seru Mbok Yum dan Bu Sonya lalu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Alya. Seketika rasa sedih Alya pun hilang, lalu ia memeluk Mamanya dan Mbok Yum. Lalu dibukanya kado dari Mamanya. Betapa bahagianya Alya ternyata kado itu berisi sebuah gaun yang sangat indah. Beberapa saat setelah Alya memegang gaun itu, tiba-tiba Alya mimisan lalu pingsan. Bu Sonya dan Mbok Yum panik lalu membawa Alya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit Alya langsung dibawa ke UGD. Setelah 1 jam menunggu dengan perasaan cemas akhirnya dokter pun keluar dari ruang UGD. Bu Sonya menanyakan keadaan Alya namun dokter itu meminta Bu Sonya untuk keruangannya sekarang. Ternyata dokter itu adalah Dokter Ines yang sering menangani Alya. Akhirnya Dokter Ines mengatakan bahwa Alya mengidap penyakit Leukimia. Dokter Ines menceritakan bahwa sudah sejak lama Alya itu mengidap penyakit tersebut. Dan beberapa kali Dokter Ines menyarankan untuk mencari donor sumsum tulang belakang. Namun, Alya mengaku tidak berani mengatakan hal ini pada ibunya.

            Bu Sonya menyesal karna selama ini ia tidak memperhatikan anaknya, bahkan anaknya sakit pun ia tidak mengetahuinya. Dan disaat ia tahu penyakit Alya sudah parah. Bu Sonya hanya bisa menangis. Menangisi semua kebodohannya mennyia-nyiakan anak semata wayang nya.

            Setelah Alya siuman bu sonya langsung memeluk Alya dan meminta maaf padanya karna Bu Sonya telah menyia-nyiakannya selama ini. Lalu Bu Sonya memeluk Alya dengan penuh kasih sayang. Selama 3 bulan mereka menghabiskan waktu bersama.

            Pada suatu hari Alya mengajak Ibunya untuk liburan ke pantai. Setelah lumayan lama Alya bermain di pantai, tiba-tiba Alya jatuh. Matanya perlahan-lahan terpejam. Sebelum matanya terpejam Alya mengucapkan kalimat perpisahan kepada Ibunya. Alya berkata “Alya sangat sayang sama mama, Alya minta maaf kalau selama ini alya sudah merepotkan mama”. Setelah mengucapkan kalimat tersebut mata Alya terpejam. Ibunya menangis karena sangat kehilangan Alya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s